Rabu, 25 Mei 2011

DASAR - DASAR PROSES BELAJAR MENGAJAR

A.   Pengertian


Proses pengajaran pada hakikatnya adalah pelaksanaan kurikulum oleh guru, dalam ruang lingkup yang lebih khusus dan terbatas.
KURIKULUM
Kurikulum adalah program belajar untuk siswa, sebagai dasar dalam merencanakan pengajaran. Sebagai program pengajaran kurikulum mengandung :
  1. Tujuan, yaitu suatu rumusan mengenai tingkah laku yang diharapkan dimiliki oleh  siswa
  2. Materi/isi program, yaitu bidang studi/mata pelajaran
STRATEGI PELAKSANAAN KURIKULUM
Strategi pelaksanaan kurikulum, yaitu cara bagaimana melaksanakan kurikulum sebagai program belajar, agar program tersebut dapat mempengaruhi siswa sehingga dapat mencapai tujuan
PENGAJARAN
Pengajaran adalah operasional dari kurikulum. Melalui kegiatan pengajaran kurikulum mempunyai kekuatan mempengaruhi pribadi siswa
GURU DAN KURIKULUM
      Guru mempunyai tugas ganda yakni harus menguasai kurikulum dan menterjemahkan serta menjabarkannya kepada siswa melalui proses pengajaran. Guru dituntut agar terampil menyusun satuan pelajaran dan mampu mengajarkan kepada siswa. 

B.   Tugas dan tangungjawab guru
Jabatan guru adalah jabatan profesional, sebab tidak semua orang dapat menjadi guru kecuali mereka yang dipersiapkan melalui pendidikan untuk itu. Profesi guru berbeda dengan profesi lainnya. Perbedaannya terletak dalam tugas dan tanggungjawab. Adapun tugas dan tanggungjawab guru :
1.     Guru sebagai pengajar, menekankan kepada tugas dalam merencanakan dan melaksanakan pengajaran
2.     Guru sebagai pembimbing, memberikan bantuan kepada siswa dalam memecahkan masalah yang dihadapi
3.     Guru sebagai administrator kelas, merupakan jalinan antara ketatalaksanaan bidang pengajaran dan ketatalaksaan pada umumnya.

C.   Kompetensi Guru
Telah dijelaskan bahwa perbedaan pokok antara profesi guru dan profesi lainnya terletak dalam tugas dan tanggung jawabnya. Tugas dan tanggung jawab tersebut erat kaitannya dengan kemampuan yang diisyaratkan untuk mengaku profesi tersebut. Kompetensi guru dapat dikategorikan, dalam tiga bidang, yakni :
1.     Kompetensi bidang kognitif, kemampuan intelektual seperti penguasaan mata pelajaran
2.     Kompetensi bidang sikap, kesiapan dan kesediaan guru terhadap berbagai hal yang berkenaan dengan tugas dan profesinya
3.     Kompetensi prilaku, kemampuan guru dalam berbagai keterampilan, seperti keterampilan mengajar, membimbing, menilai, menggunakan alat bantu pengajaran, dll.
Kompetensi – kompetensi diatas diperoleh melalui suatu proses pendidikan, yakni melalui sistem pendidikan guru berdasarkan kompetensi.

D.   Hakikat Belajar Mengajar
Pengajaran pada dasarnya adalah suatu proses, terjadinya interaksi guru – siswa melalui kegiatan terpadu dari dua bentuk kegiatan, yakni kegiatan siswa dengan kegiatan mengajar guru. Titik berat proses pengajaran, ialah kegiatan siswa belajar. Belajar pada hakikatnya adalah proses perubahan tingkah laku yang disadari. Mengajar pada hakikatnya adalah usaha yang direncanakan melalui pengaturan dan penyediaan kondisi yang memungkinkan siswa melakukan berbagai kegiatan belajar seobtimal mungkin.
Dalam proses pengajaran terdapat empat komponen utama, yang perlu diatur dan dikembangkan sedemikian rupa sehingga semua komponen saling berhubungan dan mempengaruhi satu sama lain. Keempat komponen tersebut ialah tujuan, bahan pelajaran, metode dan alat, serta penilaian. Jika diubah dalam pertanyaan menjadi :
a.       Kemana proses tersebut akan diarahkan ?
b.      Apa yang harus dibahas dalam proses tersebut ?
c.       Bagaimana cara melakukannya ?
d.      Bagaimana mengetahui berhasil tidaknya proses tersebut ?
Komunikasi dalam proses belajar mengajar
Ada tiga pola komunikasi yang dapat digunakan untuk mengembangkan interaksi dinamis antara guru dengan siswa :
a.      Komunikasi sebagai aksi atau komunikasi satu arah
Guru berperan sebagai pemberi aksi dan siswa sebagai penerima aksi
b.      Komunikasi sebagai interaksi atau komunikasi dua arah
Guru dan siswa dapat berperan sama, yakni pemberian aksi dan penerima aksi
c.       Komunikasi sebagai tranaksi atau komunikasi banyak arah
Komunikasi yang tidak hanya melibatkan interaksi dinamis antara guru dengan siswa tetapi juga melibatkan interaksi dinamis antara siswa yang satu dengan siswa lainnya.
Faktor yang mempengaruhi hasil belajar siswa.
  1. Besarnya kelas
  2. Suasana belajar
  3. Fasilitas dan sumber belajar

E.   Bentuk dan Tipe Hasil Belajar
1.      Bentuk Perbuatan Belajar
a.      Belajar signal, bentuk belajar ini paling sederhana yaitu memberikan reaksi terhadap perangsang
b.      Belajar bereaksi perangsang melalui penguatan, yaitu memberikan reaksi yang berulang – ulang manakala terjadi reinfor cement atau penguatan
c.       Belajar membentuk rangkaian, yaitu belajar menghubungkan hubungan gejala/factor/yang satu dengan yang lainnya, sehingga menjadi satu kesatuan yang berarti
d.      Belajar asosiasi verbal, yaitu memberikan reaksi dalam bentuk kata – kata, bahasa terhadap perangsang yang diterimanya
e.       Belajar konsep, yaitu menempatkan objek menjadi satu klasi fikasi tertentu
f.       Belajar kaidah. Yaitu menghubung – hubungkan beberapa konsep
g.      Belajar memecahkan masalah, menggabungkan beberapa kaidah atau prinsip, untuk memecahkan persoalan
2.      Tipe hasil belajar
a.      Tipe hasil belajar kognitif
-          Tipe hasil belajar pengetahuan hafalan (knowledge)
-          Tipe hasil belajar pemahaman (comprehention)
-          Tipe hasil belajar penerapan (aplikasi)
-          Tipe hasil belajar analisis
-          Tipe hasil belajar sintesi
-          Tipe hasil belajar evaluasi
b.      Tipe hasil belajar afektif
Bidang afektif berkenaan dengan sikap dan nilai.
c.       Tipe hasil belajar psikomotor
Hasil belajar psikomotor dalam bentuk keterampilan (skill) kemampuan bertindak individu (seseorang)

F.    Tujuan Pengajaran
1.         Klasifikasi tujuan
Pendidikan dan pengajaan adalah usaha yang bertujuan. Lebih dari itu kegiatan pendidikan dan pengajaran terikat dan diarahkan untuk mencapai tujuan. Dalam pendidikan, kita mempunyai pedoman umum atau sasaran umum yang hendak dicapai yang dirumuskan dalam bentuk tujuan umum pendidikan. Tujuan umum ditetapkan oleh Pemerintah biasanya melalui undang – undang pendidikan
Dalam penjabaran lebih lanjut, sesuai dengan tingkatan, jenis sekolah dan program pendidikan yang diberikan, kita mengenal 4 tingkatan tujuan pendidikan yaitu :
a.       Tujuan umum pendidikan, yakni membentuk manusia pancasila
b.      Tujuan institusional (tujuan lembaga pendidikan) adalah tujuan yang diharapkan dicapai oleh lembaga atau jenis tingkatan sekolah sebagai tujuan antara untuk sampai pada tujuan umum
c.       Tujuan kurikuler (tujuan bidang studi)
d.      Tujuan instruksional (tujuan proses belajar mengajar)
2.         Tujuan instruksional
Adalah rumusan pernyataan mengenai kemampuan atau tingkah laku yang diharapkan dimiliki siswa setelah ia menerima proses pengajaran. Tujuan pengajaran adalah niat atau harapan yang harus dicapai oleh siswa. Dengan kata lain, hasil proses belajar yang diharapkan dikuasai oleh siswa setelah mereka diberikan pengajaran oleh guru.
3.         Syarat merumuskan instruksional
a.       Rumusan tujuan harus berpusat pada perubahan tingkah laku sasaran didik/siswa. Hal ini disebutkan tujuan pengajaran pada dasarnya untuk siswa bukan untuk guru
b.      Rumusan tujuan pengajaran khusus harus berisikan “tingkah laku operasional”. Tingkah laku operasional artinya dapat diukur pada saat itu juga
c.       Rumusan tujuan berisikan makna dari pokok bahasan yang akan diajarkan saat itu.
Disamping ketiga syarat tersebut, bisa dilengkapi dengan syarat – syarat lainnya yakni adanya kondisi pada saat dimana pelajaran berlangsung dan adanya standar minimal.

G.  Bahan Pelajaran
Bahan pelajaran adalah isi yang diberikan kepada siswa pada saat berlangsungnya proses belajar-mengajar. Secara umum sifat bahan pelajaran dapat dibedakan menjadi beberapa kategori, yakni fakta, konsep, prinsip dan keterampilan.
a.       Fakta adalah Sifat dari suatu gejala, peristiwa, benda, yang wujudnya dapat ditangkap oleh panca indra manusia. Fakta biasanya dipelajari secara hafalan
b.      Konsep atau pengertian, yakni serangkaian perangsang yang mempunyai sifat – sifat yang sama. Suatu konsep dibentuk melalui pola unsure bersama diantara anggota kumpulan atau rangkaian
c.       Prinsip pokok yang telah diterima dengan baik dan teruji kebenarannya dinamakan hukum.
d.      Keterampilan dalah pola kegiatan yang bertujuan, yang memerlukan manipulasi dan koordinasi informasi yang dipelajari. Keterampilan dibedakan menjadi dua ketegori yaitu keterampilan fisik (psikomotor) dan keterampilan intelektual (cara memecahkan masalah)

H.  Kegiatan Belajar Mengaja
Kegiatan belajar mengacu pada hal – hal yang berhubungan dengan kegiatan siswa dalam mempelajari bahan yang disampaikan guru. Sedangkan kegiatan mengajar berhubungan dengan cara guru menjelaskan bahan kepada siswa. Oleh sebab itu kegiatan belajar erat hubungannya dengan metode belajar, sedangkan kegiatan mengajar erat hubungannya dengan metode pengajaran.
Kegiatan belajar siswa dapat dibedakan menjadi 3 kategori yakni,
a.      Kegiatan belajar mandiri/individu (perorangan)
Setiap anak yang ada di kelas mengerjakan kegiatan belajar masing – masing
b.      Kegiatan belajar kelompok
Siswa melakukan kegiatan belajar dalam situasi kelompok, missal diskusi memecahkan masalah
c.       Kegiatan belajar klasikal
Semua siswa dalam waktu yang sama mengerjakan kegiatan belajar yang sama.


DAFTAR PUSTAKA
Sudjana, nana. 2009. Dasar – Dasar Proses Belajar Mengajar. Bandung: Sinar Baru Algensindo








Minggu, 01 Mei 2011

HARI PENDIDIKAN

      Hari Pendidikan Nasional yang jatuh pada tanggal 2 Mei merupakan salah satu Hari bersejarah yang tentunya di peringati setiap tahunnya sejak meninggalnya Ki Hajar Dewantara yang ditetapkan oleh surat keputusan Presiden RI No.305 Tahun 1959. Perjuangan Ki Hajar Dewantara dan kawan - kawan seperjuangannya untuk mendukung perkembangan pendidikan di Indonesia . Patut dihargai , dikenang , dan dilestarikan . Seperti hal yang dilakukan Raden Ajeng Kartini dan  dr. Cipto Mangunkusumo yang mengabdikan dirinya untuk keprihatinan terhadap pendidikan di Indonesia.

Makna Hari Pendidikan Nasional
        Tanggal 2 Mei tepatnya adalah hari Pendidikan Nasional. Hari dimana lahirnya pendidikan di Indonensia. Tanggal 2 Mei dijadikan sebagai hari Pendidikan Nasonal bertepatan dengan hari lahirnya salah satu tokoh pendidkan kita yaitu Ki Hajar Dewantara dengan nama asli: Raden Mas Soewardi. Mengulas sedikit tentang perjuangan untuk memajukan pendidikan di bumi Indonesia, beliau sempat mendirikan salah satu taman siswa pada 3 Juli 1922 untuk sekolah kerakyatan di Yogyakarta. Kemudian beliau juga sempat menulis berbagai artikel yang intinya memprotes berbagai kebijakan para penjajah (Belanda) yang kadang membunuh serta menghambat tumbuh dan berkembangnya pendidikan di Indonesia.
        Bertolak dari usaha, kerja keras serta pengorbanan dirinya melalui surat keputusan Presiden RI No. 305 Tahun 1959, tanggal 28 November 1959 dinobatkan sebagai salah satu Pahlawan Pergerakan Nasional. Bahkan yang lebih menggembirakan dirinya di anggap sebagai Bapak Pendidikan untuk seluruh orang  Indonesia, penghormatan itu terbukti dengan ditetapkan 2 Mei sebagai Hari Pendidikan Nasional. 
       Untuk mewujudkan dan membangun dunia pendidikan di Indonesia yang sedang diusahaknnya dalam penjajahan para penjajah Belanda beliau memakai semoboyan “Tut Wuri Handayani” semboyan ini berasal dari ungkapan aslinya "Ing Ngarsa Sung Tulada, Ing Madya Mangun Karsa”. Semboyan ini masih dipakai dalam dunia pendidikan kita hingga era reformasi ini. Bahkan dengan semboyan itu telah sedikit mengubah warna pendidikan kita di Indonesia saat ini.
     Hari ini Pendidikan Nasional Tanggal 2 Mei 2011 mempunyai arti penting dalam kancah pendidikan nasional Indonesia. Pada abad 21 ini, pendidikan mempunyai arah tujuan yang jelas, yaitu memartabatkan manusia Indonesia di kancah internasional. Kembali lagi tentang hari Pendidikan Nasional, bahwa permasalahan lemahnya semangat para siswa harus disikapi secara serius oleh semua pihak baik para orang tua siswa, para teknisi pendidikan dan pemerintah. 
       Dan kita sebagai calon tenaga pengajar harus lebih memahami persoalan yang dihadapi para siswa kita dan mencoba membatu bukan membebani mereka dengan tidak memperdulikan mereka (ngerti gak ngerti asal wes ngajar)
     Di HARI PENDIDIKAN ini mari kita peringati dengan selalu mengenang jasa - jasa para pahlawan pendidikan terdahulu serta mencoba mencontoh mereka dalam memajukan dunia pendidikan
 
 

" Selamat Hari Pendidikan”



dikutip dari : 
http://www.gudangmateri.com/2010/04/hari-pendidikan-nasional-2010.html
http://www.garutkab.go.id/download_files/article/Hari%20Pendidikan.pdf
    












Sabtu, 02 April 2011

Tugas dan Tanggung Jawab Guru

        Jabatan guru adalah jabatan profesional, sebab tidak semua orang dapat menjadi guru kecuali mereka yang dipersiapkan melalui pendidikan untuk itu. Secara sederhana pekerjaan yang bersifat profesional adalah pekerjaan yang hanya dapat dilakukan oleh mereka yang secara khusus disiapkan untuk itu dan bukan pekerjaan yang dilakukan oleh merekan yang karena tidak dapat atau tidak memperoleh pekerjaan lainnya. makin tinggi tingkat pendidikan yang harus dipenuhi makin tinggi pula derajat profesi yang disandangnya. Dengan kata lain tinggi rendahnya pengakuan profesionalisme sangat bergantung kepada keahlian dan tingkat pendidikan yang ditempuhnya.
     Profesi guru berbeda dengan profesi lainnya. Perbedaannya terletak dalam tugas dan tanggung jawab. Adapun tugas dan tanggung jawab guru menurut Peters :
  1. Guru sebagai pengajar, menekankan kepada tugas dalam merencanakan dan melaksanakan pengajaran. Dalam tugas ini guru dituntut memiliki seperangkat pengetahuan dan keterampilan teknis mengajar, disamping menguasai ilmu atau bahan yang akan diajarkan 
  2. Guru sebagai pembimbing, memberikan bantuan kepada siswa dalam memecahkan masalah yang dihadapinya. Tugas ini merupakan aspek mendidik, sebab tidak hanya berkenaan dengan penyampaian ilmu pengetahuan tetapi juga menyangkut perkembangan kepribadian dan pembentukan nilai-nilai para siswa 
  3. Guru sebagai administrator kelas, merupakan jalinan antara ketatalaksanaan bidang pengajaran dan ketatalaksaan pada umumnya.Namun demikian, ketatalaksaan bidang pengajaran lebih menonjol dan lebih diutamakan bagi profesi guru.  
     Dalam situasi sekarang tugas dan tanggung jawab guru dalam pengembangan profesi dan membina hubungan dengan masyarakat nampaknya belum banyak dilakukan oleh para guru. Yang paling menonjol hanyalah tugas dan tanggung jawab sebagai pengajar dan sebagai administrator kelas. Demikian pula tugas dan tanggung jawab sebagai pembimbing masih belum membudayakan di kalangan para guru. Mereka beranggapan tugas membimbing adalah tugas guru pembimbing atau wali kelas. 


Sumber :
Sudjana, nana. 2009. Dasar – Dasar Proses Belajar Mengajar. Bandung: Sinar Baru Algensindo

Sabtu, 26 Februari 2011

PENYEBAB DAN CARA MENGATASI ANAK YANG BERMASALAH

1. Mengatasi Anak Malas Belajar 
     Anak malas belajar sudah menjadi salah satu keluhan umum orang tua. Kasus yang biasa terjadi adalah anak lebih suka bermain dari pada belajar. Anak usia sekolah tentunya perlu untuk belajar, antara lain berupa  mengulang kembali pelajaran yang sudah diberikan di sekolah, mengerjakan pekerjaan rumah (PR)  ataupun mempelajari hal-hal lain di luar pelajaran sekolah.

Malas 
      Malas dijabarkan sebagai tidak mau berbuat sesuatu, segan, tak suka, tak bernafsu. Malas belajar berarti tidak mau, enggan, tidak suka, tak bernafsu untuk belajar ( Muhammad Ali, Kamus Bahasa Indonesia)
      Jika anak - anak tidak suka belajar dan lebih suka bermain, itu berarti belajar dianggap sebagai kegiatan yang tidak menarik buat mereka, dan mungkin tanpa mereka sadari juga dianggap sebagai kegiatan yang tidak ada gunanya karena bagi mereka tidak secara langsung dapat menikmati hasil belajar. Berbeda dengan kegiatan bermain, jelas - jelas kegiatan bermain menarik buat anak - anak, dan keuntungannya dapat mereka rasakan secara langsung (perasaan senang yang dialami ketika bermain adalah suatu keuntungan)
Sebab :
  1. Faktor Intrinsik (dalam diri anak sendiri) 
  • Kurangnya waktu ynag disediakan untuk bermain 
  • kelelahan dalam beraktifitas (misal, terlalu banyak bermain)
  • sedang sakit
  • sedang sedih (misal, bertengkar dengan teman sekolah)
     2   Faktor ekstrinsik
  • Sikap orang tua yang tidak memperhatikan anak dalam belajar atau sebaliknya. Banyak orang tua ynag menuntut anak belajar hanya demi angka (nilai) dan bukan atas dasar kesadaran dan tanggung jawab anak selaku pelajar. Memaksakan anak untuk les ini itu, dst.
  • Sedang punya masalah di rumah 
  • Bermasalah disekolah (phobia sekolah, sehingga apapun yang berhubungan dengan sekolah jadi enggan untuk dikerjakan). 
  • Tidak mempunyai sarana yang menunjang belajar (misal tidak tersedianya ruang belajar khusus, meja belajar, buku pejunjang, dan penerangan yang bagus, alat tulis, buku, dll)
  • Suasana rumah misalnya rumah penuh dengan kegaduhan, keadaan rumah yang berantakan ataupun kondisi udara ynag pengap. seloain itu tersedianya fasilitas permainan ynag berlebihan di rumah juga dapat mengganggu minat belajar anak, mulai dari radio, tape, VCD, DVD, atau komputer dan Plays Stations. 
Cara Mengatasi Malas Belajar Anak :
Mencari sebab anak menjadi malas adalah langkah pertama. SAran berikutnya antara lain :
1. Menanamkan pengertian yang benar tentang belajar pada anak sejak dini.
      Terangkan dengan bahasa yang dimengerti anak, menumbuhkan inisiatif belajar pada anak, menumbuhkan kesadaran serta tanggung jawab selaku pelajar pada anak merupakan hal lain yang bermanfaat jangka panjang.
2. Berikan contoh belajar pada anak.
     Anak cenderung meniru perilaku oarang tua. Ketika menyuruh dan mengawasi anak belajar, orang tua juga perlu untuk terlihat belajar (misalnya membaca buku). Sesekali ayah dan ibu perlu berdiskusi satu sama lain, mengenai topik - topik serius  
3. Berikan insentif jika anak belajar. 
     Insentif yang dapat diberikan ke anak tidak selalu harus berupa materi, tapi bisa juga berupa penghargaan dan perhatian. Pujilah anak saat ia mau belajar tanpa mesti disuruh 
4. Sering mengajukan pertanyaan tentang hal-hal yang diajarkan di sekolah pada anak (bukan dalam keadaan mengetes anak, tapi misalnya sembari mengisi tts atau ikut menjawab kuis ). Jika anak bisa menjawab, puji dia dengan menyebut kepintarannya sebagai hasil belajar. Kalau anak tidak bisa, tunjukkan rasa kecewa dan mengatakan "Yah Ade nggak bisa jawab, nggak bisa bantu Mama deh. Ade, di buku pelajarannya ada nggak sih jawabannya? Kita lihat yuk sama-sama". Dengan cara ini, anak sekaligus akan merasa dipercaya dan dihargai oleh orangtua, karena orangtua mau meminta bantuannya. Mengajarkan kepada anak pelajaran-pelajaran dengan metode tertentu yang sesuai dengan kemampuan anak. Misalnya active learning atau learning by doing, atau learning through playing, sehingga anak merasakan bahwa belajar adalah sesuatu yang menyenangkan.
5. Komunikasi
      Hendaklah ortu membuka diri , berkomunikasi dengan anaknya guna memperoleh secara langsung informasi yang tepat mengenai dirinya.
Carilah situasi dan kondisi yang tepat untuk dapat berkomunikasi secara terbuka dengannya. Setelah itu ajaklah anak untuk mengungkapkan penyebab ia malas belajar. Pergunakan setiap suasana yang santai seperti saat membantu ibu di dapur, berjalan-jalan atau sambil bermain, tidak harus formal yang membuat anak tidak bisa membuka permasalahan dirinya.
6. Menciptakan disiplin.
Jadikan belajar sebagai rutinitas yang pasti.
7. Menegakkan kedisiplinan.
     Setelah point 6,
Menegakkan kedisiplinan harus dilakukan bilamana anak mulai meninggalkan rutinitas  yang telah disepakati. Bilamana anak melakukan pelanggaran sedapat mungkin hindari sanksi yang bersifat fisik (menjewer, menyentil, mencubit, atau memukul).  gunakanlah konsekuensi-konsekuensi logis yang dapat diterima oleh akal pikiran anak.
8. Pilih waktu belajar terbaik untuk anak, ketika anak merasa segar. Mungkin sehabis mandi sore. Anak juga bisa diajak bersama-sama menentukan kapan waktu belajarnya.
9.Kenali pola kemampuan dan perkembangan anak kemudian  susunlah suatu jadwal belajar yang sesuai. dalam hal ini IQ, EQ, kemampuan konsentrasi ,daya serap dll.
10.
Menciptakan suasana belajar yang baik dan nyaman
Setidaknya orangtua memenuhi kebutuhan sarana belajar, memberikan perhatian dengan cara mengarahkan dan mendampingi anak saat belajar. Sebagai selingan orangtua dapat pula memberikan permainan-permainan yang mendidik agar suasana belajar tidak tegang dan tetap menarik perhatian.
11. Menghibur dan memberikan solusi yang baik dan bijaksana pada anak. Dalam hal ini jika anak sakit/sedih.

Beberapa hal yang tidak kalah pentingnya dalam menyikapi anak yang sedang dilanda malas belajat adalah
1. Orangtua harus menyadari sisi positif sang anak.
     Galilah sisi positif anak agar anak menyadari dirinya sendiri untuk mengatasi masalahnya. Pernah nggak sih kamu menghadapi PR yang sangat sulit, tapi akhirnya bisa mengatasinya? Ajak anak untuk mengingat ingat, dan kemudian bercerita. Begitu anak mengingat momen itu, gali lebih jauh. PR apa itu, apa saja kesulitannya, bagaimana dia mengatasinya, dan seterusnya.
    Anak akhirnya tersadar bahwa dia bisa mengatasi kesulitan-kesulitannya itu, karena dia memiliki sisi positif tertentu. Sisi itu bergantung dari sang anak. Bisa saja karena kesabaran, keuletan, usaha dia untuk bertanya kepada teman, dan sebagainya. Perkuat keyakinan anak, atau sadarkan anak. Misalnya dengan mengatakan: Nah, kamu pernah mengalami hal yang seperti ini, dan berarti kamu bisa mengatasinya
2. Gunakan imajinasi anak
    Orangtua membantu anak membayangkan, apa yang dia inginkan untuk masa depannya. Baik dalam waktu panjang atau pendek. Pancing anak untuk membayangkan sesuatu yang menyenangkan jika dia berhasil mengerjakan PR-nya dengan baik., kira-kira apa ya komentar dari guru? Minta dia menggambarkan imajinasinya dengan jelas, apa jadinya jika PR-nya bagus. Mulai dari bagaimana senyum sang guru, komentarnya, dan sebagainya.
3. Mengarahkan anak untuk berteman dan "hidup" dalam lingkungan yang baik dan mendukung.
4. Tidak terfokus bahwa belajar hanya berkutat pada buku non fiksi. Gunakan segala hal yang baik yang mampu membuat anak "belajar"tentang segala sesuatu, termasuk permainannya karena dunia bermain adalah dunia anak-anak Pilih dan arahkan permainannya sehingga anak bisa berkembang.
5. Memberikan bekal nilai-nilai religius pada anak
Inilah faktor yang sangat penting ,disamping doa orang tua akan anak-anaknya. Apalagi di jaman yang berkembang dengan pesatnya. Tak mungkin orang tua memberikan pengawasan secara kasat mata terus menerus.Juga kemajuan teknologi. Satu hal yang menjadi jawabnya adalah: beragama dengan baik dan benar.